10 Masalah 50 Solusi Karya Tulis

Berdasarkan pengalaman kami menangani klien, kami menyimpulkan terdapat 10 masalah yang seringkali dihadapi klien karya tulis ilmiah kami. Sebagai konsultan dan pembibimbing jasa pembuatan tesis (ternyata klien pembuatan tesis paling banyak, baru kemudian penyusunan disertasi, dan paling sedikit penulisan skripsi), kami wajib mengantisipasi potensi permasalahan klien kami, dengan menyediakan alternatif solusi lima kali lebih banyak 50 solusi daripada masalahnya.

Kami siap dengan 10 Masalah 50 Solusi Karya Tulis. Kami harus siap dengan Plan A sampai dengan Plan E, karena kami harus berfikir “andainya Plan A ditolak/ gagal”, dan bukan “andainya Plan A diterima/ berhasil”. Kami harus mampu mengantisipasi dan meng-handle kondisi terpahit sekalipun yang potensial yang akan dihadapi klien kami.

Kesepuluh masalah para mahasiswa penulis karya ilmiah, apabila dirangkumkan, menjadi hanya tiga kategori masalah.

10 Masalah 50 Solusi Karya Tulis

Pertama

Kategori pertama berkaitan dengan klien kami (mahasiswa) sebagai subyek dari karya ilmiah tersebut. Klien kami, yang sebagian besar klien pembuatan jasa tesis, memiliki masalah kesibukan dalam berkarier. Mahasiswa pengambil gelar strata dua (S-2) rata-rata adalah mahasiswa yang sudah sibuk dan fokus pada pekerjaan atau karier, belum  lagi waktu mereka tersita oleh urusan rumah-tangga karena rata-rata mereka sudah berkeluarga.

Sebagian klien jasa penulisan tesis, memiliki rentang waktu 2-7 tahun dari saat mereka membuat skripsi dahulu, ketika masih memiliki waktu luang, tidak diburu deadline dan target pekerjaan. Pendek kata, waktu menjadi kendala. Klien kami rata-rata mahasiswa yang cerdas, yang banyak ide, bahkan banyak membaca, serta sukses dalam berkarier.

Hanya lantaran persoalan kebiasaan menuangkan ide dalam bentuk oral, atau dalam bentuk pointer pada Power-Point, atau executive-summary; maka untuk menuliskan sesuatu karya hingga ratusan halaman dalam metode ilmiah plus berbagai ketentuan dari kampus masing-masing, bukan perkara sederhana.

Lebih-lebih apabila program studi S-2  atau S-3 mahasiswa tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan prodi mereka ketika mereka menempuh S-1, atau tidak ada hubungan dengan bidang profesi yang tengah mereka geluti saat ini. Tidak sedikit mahasiswa S-2 atau S-3 mengambil jurusan manajamen, misalnya, hanya karena ditugaskan perusahaannya,  bukan karena sesuai dengan bakat dan tuntutan minatnya.

Kedua

Kategori kedua masalah penulisan karya ilmiah berkaitan dengan obyek penulisannya. Karena bukan profesi sehari-hari membuat karya ilmiah, para mahsiswa itu seringkali terjebak oleh usulan karyanya sendiri, yang akhirnya menyulitkan diri sendiri dalam pelaksanannnya. Sebut saja, pemilihan judul yang cenderung ideal, yang ternyata datanya sulit diperoleh.

Atau lokasi penelitian yang secara teknis sulit dilaksanakan dalam waktu singkat dan biaya efisien. Atau menentukan populasi dari kalangan para pimpinan perusahaan (bukan sopir misalnya) yang ketika dalam pelaksanaan penelitian ternyata lebih mudah minta waktu lima orang sopir untuk mengisi kuesioner karena mereka sering berkumpul santai di basement sambil main catur dan minum kopi; dibandingkan dengan minta waktu seorang pimpinan perusahaan.

Hampir semua mahasiswa datang dengan membawa buku pedoman penulisan karya ilmiah dari perguruan tingginya, namun hanya menyangkut substansi dan sistematika secara umum plus teknik penulisan. Namun pedoman yang benar-benar berangkat dari masalah ketidaktahuan dan keraguan mahasiswa, ternyata tidak dicantumkan  misalnya “latar belakang masalah” itu harus berbentuk kerucut terbalik (dari umum dulu, baru secara sistematis menuju ke yang khusus/ spesifik hingga ke masalah penelitian).

Begitu banyak tuntutan kualitas karya ilmiah yang dituntut suatu perguruan tinggi, namun tidak dijelaskan dalam pedoman resmi perguruan tinggi. Akhirnya mahasiswa rata-rata lebih banyak melakukan trial and error, sehingga lebih banyak efforts & resources yang harus dikeluarkan, dan harus bolak-bolak menemui pembimbing,  bolak-balik koreksian. Pekerjaan keoreksian seolah tanpa ujung. 

Membuat karya ilmiah seolah-olah menjadi suatu momok besar bagi para mahasiswa, padahal hampir rata-rata mahasiswa sebenarnya sangat dan sangat mampu membuatnya apabila sejak awal diberikan pedoman dan pengarahan yang pasti, detil dan lengkap, serta seragam untuk setiap pembimbing.

Ketiga

Sedangkan kategori ketiga berkaitan dengan pihak evaluator dan penilai, dalam hal ini dosen pembimbing (S-1 dan S-2) atau promotor (untuk S-3). Masalah yang sering dihadapi mahasiswa dalam kaitannya dengan dosen pembimbing ini adalah antara pembimbing pertama  dan kedua terkadang berbeda pendapat, sehingga membingungkan mahasiswa, mereka harus berkiblat ke siapa.

Meskipun untuk mahasiswa yanjg pembimbingnya dua kini umumnmy asudah ada pembagian tugas, misalnya pembimbing pertama menyangkut konsep dan subnstansi karya ilmiah; sedangkan pembimbing kedua mengenai teknis penulisan karya ilmiah.

Namun terkadang arahan dari pembimibing berubah-ubah, sehingga mahasiswa terombang-ambing, karena setiap satu kalimat arahan pembimbing dalam pelaksanaan bisa memakan waktu relative lama. Tidak sedikit pembimbing yang mengoreksinya sepotong-sepotong, dikredit istilahnya, sehingga perbaikan menjadi berkali-kali yang sebenarnya bisa hanya sekali atau dua kali.

Selain itu, seringkali pembimbing sulit ditemui, sehingga proses karya ilmiah harus tertunda dari minggu ke minggu. Terkadang pula pembimbing tidak membaca karya mahasiswa secara detil sehingga bimbingannya tidak mendalam; atau pembimbing tidak menguasai masalahya dengan baik, sehingga memberikan pengarahan kepada mahasiswa justru ke arah yang  kurang tepat.

Berada dalam kompleksitas masalah karya ilmiah seperti itulah, Karya Data siap memberikan solusi lima kali lebih banyak daripada masalahnya. Lima kali di sini tidak semata-mata dalam pengertian kuantitasnya, namun juga kualitasnya.

Salah satu kekuatan kami adalah pada langkah pertemuan pertama dengan calon klien kami. Pada pertemuan pertama kami harus membuat diagnosa bersama dengan mahasiswa, sehingga memperoleh hasil diagnosa yang lengkap, teliti, cermat, dan realistis.

Bagaimanapun kami harus menjadi partner mahasiwa untuk secara bersama-sama membedah masalah yang sedang dan akan dihadapi. Pada tahap bedah masalah ini berbagai aspek yang terkait dengan 10 masalah karya ilmiah harus sudah terbaca, sebab hanya inilah cara terbaik agar kami dapat merumuskan terapi yang tepat untuk setiap mahasiswa.

Diagnosis 10 Masalah 50 Solusi Karya Tulis

Dengan diagnosa yang lengkap akan membuat terapi juga lengkap dan integrated, sehingga akan lebih mengefektifkan dan mengefisienkan langkah berikutnya. Kami tidak boleh bosan untuk mendetilkan kasus per kasus setiap mahsiswa, lebih-lebih mahasiswa datang dari perguruan tinggi yang berbeda, fakultas dan program studi yang berbeda, tema penelitian, obyek penelitian, maupun pendekatan penelitian yang berbeda pula, sehingga kami asumsikan masing-masing mahasiswa memiliki kekhasan tersendiri dalam masalah maupun solusinya, so kami mendekatinya harus secara customized.

Diganosa yang tepat akan menghasilkan terapi yang tepat, dan  akan memunculkan agenda kerja yang efisien dan efektif untuk mahasiswa maupun kami. Sinergi dan win-win solution antara kami dan mahasiswa adalah kunci keberhasilan utama.

Oleh karena itu kami harus terus menjalin komunikasi dengan mahasiswa dari waktu ke waktu, dan kami harus senantiasa terbuka untuk kapan saja bisa bertemu mahasiswa, karena penyusunan tesis, skripsi, maupun disertasi bersifat dinamis, bersifat terus-menerus dalam koreksi dosen dan perbaikan dari mahasiswa, yang karenanya setiap saat agenda kami harus terusdi-update, disesuaikan dengan perkembangan terkini.

Untuk keterangan lebih lanjut tentang 10 Masalah 50 Solusi Karya Tulis serta konsultasi gratis, Anda dapat menghubungi kami melalui SMS atau berbicara langsung via:

WA: 087889326185 & Email : karyadata@gmail.com

10 Masalah 50 Solusi Karya Tulis